Go with d Flow?

Hello there..
Today is easter day.. Means a holiday..
After 6pm, outside still poured by water. I feel alone.. Dunno why..
After a while,  flash back seems to cross my mind. This morning, yesterday, last week, last month..
I fell like I just go with d flow. Nothing’s wrong with it but I feel is not what usually I am as an individual. I messed up my plans.. I suppose to take my doctoral degree somewhere in the UK, but here I am at front of my house doing nothing. So many things to do outside my personal planning and I just can’t resist them as I always hope can support others. As consequences, multitasking, and my personal planning is the next.. Which I don’t know when to be tackled. Astagfirullah, God..
However, right in front of my eye, so many God’s scenarios acted by my fellows, my friends, my surroundings.
My friend’s Mom passed away on early March, a week after another friend lost her Dad.. My Mom hospitalised, my friend lost his daughter (the baby can only stay 8 month inside her mother’s womb).. Another friend got a new baby girl, my twin nephews ended their breastfed era and many more.. Then I can’t say a word.
Shall I just keep going with the flow?
Happy or sad, you decide! 
Salaman
Y.

Advertisements

The Art of Misunderstanding

Sudah menjadi lazim bagi manusia, pada saat ada masalah barulah merunut apa penyebabnya. Orang kebanyakan bahkan terjebak pada mencari siapa yang salah, dan bahkan berakhir dengan permusuhan yg mendarah daging. Artinya menganggap seolah-olah tidak tejadi apa-apa, padahal dalam hati masih merasa ada yg tidak tuntas. Suatu saat, jika ada masalah lagi, bisa-bisa mencuat lagi ‘masalah’ yg dulu-dulu.

 

Ada lagi manusia yang langsung pada poin ‘what’s next’ ketimbang berkutat dengan siapa biang masalah. Sehingga masalah segera terselesaikan. Bagus sih, tapi ini juga jangan-jangan berorientasi pada hasil, yang penting berhasil. Ke depan, bisa jadi masalah terulang lagi, dan pihak-pihak terkait yg sebenarnya harus memperbaikki diri, tidak menyadari jika sebenarnya ada yg harus diperbaikki.

Lalu kita cenderung yang mana,ya?

 

Yang manapun anda, sebenarnya yang dibutuhkan adalah kesadaran adanya kesalahpahaman bbrp pihak dan segera mencari solusi apa yang harus dilakukan serta ke depan harus bagaimana. ini yang disebut seni kesalahpahaman aka The Art of Miscommunication. Karena sebuah seni, maka penikmatnya-lah yang bisa mengerti betul sikap apa yang harus dilakukan. Membeli karya seni itu, membuangnya, melihatnya sekilas, menduplikasinya, apapun..

Di sini jugalah kita ditempa menjadi orang yang jauh lebih dewasa dalam menyikapi sebuah masalah. Jadi masalah apapun yang sedang anda hadapi, cobalah untuk diam..jk perlu mundur sejenak, untuk kemudian maju dengan langkah yang lebih mantap bahkan cepat sampai ke tujuan anda.

Selamat hari Rabu.

Salaman.

Yesika

Akal manusia mana bisa?

Betapa hujan tak henti semalaman tadi,

bisa jadi tidak hanya di Semarang, tetapi juga di tempat lalin di belahan bumi ini. hampir semua orang menggerutu..dan tidak ingat saat dulu musim panas, berharap ada hujan..

Ya, namanya juga manusia, tidak bisa menjangkau apa yang Tuhan mau di balik ini semua..

Ada yang peduli sekali dengan kondisi kami yang di tahun ini belum diberi amanah berupa keturunan.. bertanya, memberi saran, memotivasi, bercerita sana-sini..

Ya namanya juga manusia..

Ada yang ribut politik, gaduh kriminalisasi KPK, jualan on-line, kawin-cerai selebritas, sinetron, tayangan india.. Ya..namanya juga manusia…

keep insane while others aren’t

It’s bit a while since last time I write on this page.. I think I need to me more organized although most of my friends said I’m too organized… i don’t know..

Why i said, I need to be more organized, coz it seems that I have not enough time to do things esp in updating this blog. He.. 🙂 However, when I spend sometimes early morning, early week, then I found some slots to do things. thus, please try to write down your ‘TO DO LIST’ then you can pick WHICH ONE IS THE PRIORITY for a day,in a week, in month, and so forth. from my experience, sometime we loose what we’ve planned, but that’s OK..we just need to practice it like, everyday..

this week my priority is doing my task as a lecturer at Unimus. From 2 days that i’ve planned to fill up a web, it’s become almost a week as the web provider has too many visitors. All lecturers in Indonesia have to submit their academic document to the govt via that web. It’s a real pain..

However, I try to be positive as always.. by accessing other pages as this blog. Thank God, finally I can add something here which I hope will be usefull fo all readers.

That’s all for now..
Salaman..
Jes

What’s the title?

What’s the title? Is it important to give title? Some people said,the substance is more important that the title..even most of the people. However, to me title is important

Alhamdulillah..Praise to Alloh..
Until this time, i still can type.. nothing’s wrong with my finger. However, i might also complain with the service in a hospital, cause i have to wait for too long. Thus, basically there are two choices ‘keep doing something’ or ‘keep complaining’. Those choices are what I meant by ‘how smart we give title for everything we’ve done’.

At the beginning of this writing, my story happen when I was about to have teeth surgery in Kariadi hospital. When i have to wait, I feel like i have to give best tittle for the moment of waiting. If the title is ‘a time to reflect and type’ or ‘a boring moment in a hospital. Yes, it’s easy, but we need practice. We have to understand that nothing is coincident. God has created everything, and we don’t know what’s next because we just His creator.

At the end of this writing, i want to stressed that we have to be smart in giving title for every single thing we do. If we give the negative title then we’ll got negative atmosphre. Let’s practice it, and enjoy this beautiful life.
Happy Tuesday!
Salaman,
Jes.

mengalah dan memberi solusi

dear world,

Ternyata hampir setahun saya tidak menulis di blog ini..

Ternyata menjadi pejabat membutuhkan banyak energi untuk beradaptasi..

Ternyata memimpin teman sendiri bahkan mereka yang lebih senior, sangat menantang..

Ternyata.. oh ternyata..

 

Saat mulai pemilihan, saya diharapkan bisa mencalonkan diri. Bahkan saat saya menolak, tidak sedikit yang ‘merayu’ dengan banyak dalih.

Sekarang giliran harus memimpin, nampaknya masa perubahan ke sistem baru dengan pola kerja baru, dianggap tidak populer. Saya disiplin. Urusan jam kerja, jam ngajar, aturan ini-itu, musti rapat ini-itu, harus dilaksanakan benar untuk kemudian dievaluasi. Sayangnya saat akan dijalankan, saya merasa sendiri. Diantara banyak rencana2 yang disampaikan saat pencalonan, nampaknya belum banyak yang terealisasi. Semua berjalan seolah sebagai sebuah rutinitas. Perubahan menjadi kata yang mengerikan, karena selama ini yang sudah berjalan terlalu sayang untuk ditinggalkan..

 

Jika sudah sedemikian, MENGALAH dan MENCARI SOLUSI adalah dua hal yang jadi kata kunci. Dikala banyak yang mencaci, menggerutu, saya akan mencari solusi. Di kala diingatkan, diberi tugas, kok tidak diindahkan? ya berarti saya harus lebih sabar dan mengalah untuk menemukan solusinya..

 

Hanya ingin mengingatkan saja… sekarang ini banyak yang mau melakukan sesuatu jika hanya akan menguntungkan dirinya.. Kalo tidak, pikir-pikir dulu..

Anda termasuk yang mana, hayo??

salaman

Jes.

Great Professors #2

Hello there,

Maafkan karena baru sekarang saya melanjutkan tulisan saya tentang profesor hebat dalam pandangan saya. Alasannya tidak laiin karena saya belum pintar mengalokasikan waktu saya untuk rutin menulis di blog ini. Selain itu, saya beberapa waktu yang lalu agak ‘terganggu’ dengan penyelesaian jurnal ilmiah (untuk bahan seminar tesis saya). Saya sebut terganggu, karena saya mengalami masalah komunikasi dengan dosen pembimbing saya yang mulai sekolah lagi. Belum lagi ada tantangan lain, yaitu adanya pergantian pengurus program study, yang berakibat pada: ‘saya tidak punya tempat untuk mengadu…’.

Pada saat gundah itu, kemudian saya teringat pada seorang profesor plus ingat pada janji saya nulis di blog ini. Melalui BBM saya minta saran tentang masalah saya, dan  tidak lama dijawabnya sesuai yang saya  butuhkan (bukan inginkan). Ya, profesor yang akan saya ceritakan pada bagian ke-2 ini adalah seorang ‘lady’ yang memberi saya nilai B (hanya dari beliaulah saya dapat nilai B 😦 ). Kok bisa malah saya kagum padanya? berikut ceritanya..

Saat saya mengambil mata kuliah Psikolinguistik, pengajarnya sangat berbeda dari dosen kebanyakan. Saya paham betul bahwa setiap pengajar pasti berbeda, tapi yang ini saya sebut “sangat” karena sistem pengajaran beliau memberikan kesan mendalam untuk saya. Yang saya perhatikan setidaknya ada, cara bicara, kejujuran, keseriusan, idealisme, sekaligus kerendahan hati.

Adalah Prof. Astini Su’udi yang tinggal di perumahan dekat Akpol, Semarang (Mulai sekarang saya panggil prof Asti, ah.. ). Pertama kali beliau masuk ke ruang kelas, kami mendapatkan kesan kalau si ibu ini terlihat ‘nggaya’. Karena setiap kami membahas sebuah buku (yang beliau rujuk untuk kami miliki), justru beliau banyak mengkritisi isinya bahkan menggiring kami untuk ‘tidak 100% percaya’ pada buku itu. selain itu, bicaranya juga apa adanya. Mungkin bagi sebagian teman dipandang ‘menyerang’ bahkan ada yang bilang’ takut dibantai’. hahaha…

Tapi menurut saya, ya memang begitu cara beliau berbicara, apa adanya… Bahkan saat ada teman yang ngantuk, bisa jadi dihafal beliau karena pernah di dalam kelas kedapatan tidur. Hal ini juga memaknai kejujuran beliau sebagai pengajar sekaligus individu.

Kejujuran yang saya lihat setidaknya saat beliau menyampaikan ketidaknyamanan dengan ditempatkannya kursi dosen yang sama sekali tidak layak untuk ada di sebuah ruang S2. hehehe contoh lain adalah saat beliau jujur bahwa presentasi (Ppt) beliau dibuat oleh cucunya..

Masih ada cerita  soal keseriusan,idealisme, dan kerendahan hati beliau. kita lanjut lain kali, ya…

mari tiru dan kembangkan agar lebih baik,

salaman,

jes

Pendidikan Karakter ?

Pendidikan karakter saat ini menjadi perbincangan banyak kalangan. Sebagai sebuah institusi pendidikan, Unimus juga tentunya berperan dalam penyelenggaraan pendidikan karakter tersebut. Terlebih, perannya sebagai salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah, menjadikan Unimus dipandang dapat menjadi wadah pentransferan pendidikan karakter bagi mahasiswa.

namun pertanyaan mendasar adalah, apakah sebenarnya pendidikan karakter? Saya lebih memilih untuk memberikan bentuk nyata tentang ‘karakter’ manusia unggul ketimbang mendiskusikannya dalam seminar. smile

Bentuk nyata yang saya maksudkan adalah, melakukan  tindakan layaknya manusia yang baik (seperti digambarkan dalam tuntunan agama) tanpa embel-embel agar ‘dipuji’ atau karena urusan pencitraan. Lakukan saja apa yang menurut anda tidak merugikan orang lain dan baik bagi dunia akhirat kita. Lha konkritnya, ya tergantung konteks. Tidak perlu yang sulit, misalnya jika ada yang bilang ‘walah, nggak ada polisi, kenapa pake helm’ tanya pada diri sendiri, sebenarnya apa fungsi helm dan apa kitannya dengan kepala kita. Ada lagi, saat digaungkan ‘disiplin’ ternyata kitanya yang nguri-nguri budaya jam karet atau memulai kuliah telat, dan menyudahi kuliah lebih awal.

Jadi intinya lakukan saja, tanpa menunggu diminta, dilihat, ditegur, dan sebaginya. Jika setiap kita biasa berlaku baik pasti akan muncul rasa bersalah jika suatu saat di depan mata ada peluang ‘korupsi’, ‘menjatuhkan orang lain’, ‘menyalahkan orang lain’, dan sebagainya. Demikian saja, pilihan ada di tangan anda…

salaman,

Jes.